Seniman di Palembang Tolak Alih Fungsi Museum Tekstil Menjadi Hotel

Posted: Senin, 16 Mei 2011 by TEATER HARMONI in Label:
0


Oleh Iir Sugiarto

Harmoni Online - Geliat seniman di Palembang, setelah lengang dari aksi protes terhadap dinamika berkesenian, kali ini kembali melakukan protes keras terhadap alih fungsi Museum Tekstil Sumsel yang akan dijadikan hotel berbintang oleh pemerintah provinsi (Pemrov) Sumsel.
Hal itu terungkap dalam pertemuan sejumlah seniman Palembang di Dewan
Kesenian Palembang (DKP), Senin (16/05/2011). Dalam pertemuan itu disebutkan pengallihan Museum Tekstil menjadi hotel dianggap sejumlah oleh seniman di Palembang seagai bentuk perusakan cagar budaya.
Erwan Suryanegera, salah satu tim yang menamakan diri Aliansi Seniman Menggugat (ASM) mengatakan, pertemuan yang di lakukan pada hari ini merupakan salah satu bentuk untuk melakukan pembahasan tentang alifngsi museum tekstil menjadi hotel.

“Dan sebagaian teman kita telah sependapat bahwa saatnya kita menolak atas perubahan gedung tersebut menjadi hotel, karena dalam museum itu terdapat benda-benda bersejarah yang harus dijaga kelestariannya,” tegasnya.
lebih lanjut, Erwan menjelaskan penolakan ini dilakuka karena museum tersebut merupakan salah satu cagar budatya. Dalam UU No 11 Thn 2010 tentang perlindungan cagar budaya yang sudah berumur 50 tahun keatas harus dilestarikan dan dipelihara.
Erwan menambahkan, terkait dengan hal ini, pihaknya akan menghadap ke Walikota Palembang, agar tidak mengeluarkan Izin Membangun Bangunan (IMB) atas pembangunan hotel di area museum tekstil tersebut.
Senada dengan itu, kepada sejumlah wartawan di Palembang, Vebri Al Intani salah satu seniman Palembang lainnya menyebutkan dari hasil pertemuan para seniman yang telah dilakukan, telah mengerucurt pada kesimpulan, yang intinya seniman di Palembang menolak atas alih fungsi Museum Tekstil menjadi Hotel. “Untuk mengimplementasikan penolakan itu, kita (para seniman-red) Palembang akan mengadakan aksi dalam waktu dekat ini. Dalam aksi ini kita akan mendatangi kantor Walikota Palembang, dan mendesak mendesak pemerintah kota untuk tidak mengeluarkan IMB terhadap pembangunan hotel tersebut. Selain itu kita juga akan mendatangi kantor gubernur Sumsel untuk meminta gubernur agar menghentikan alifungssi tersebut,” kata Koordinator Lembaga kebudayaan Kobar 9 ini tana menyebut kapan kepastian aksi itu akan digelar. [*]

Sumber : http://www.dapunta.com/seniman-palembang-tolak-alifungsi-museum-tekstil-menjadi-hotel/11542.html

Read More..

Audisi “Dewi Fortuna” Belum Dapat Peran Perempuan

Posted: Senin, 09 Mei 2011 by TEATER HARMONI in Label:
0


Audisi naskah drama panggung “Dewi Fortuna” karya Imron Supriyadi, salah satu penulis di Palembang, belum mendapatkan peran perempuan, baik pemeran utama maupun pembantu perempuan. Meski ada beberapa perempuan yang ‘diincar’ oleh sutradara Jaid Saidi, tetapi menurutnya perlu ada kompetitor. “Kalau ada kompetitor, baik yang yang perempuan maupun wanita, kita akan bisa punya banya pilihan. Ini yang masih kita cari. Yang laki-laki juga masih punya peluang munculnya kompetitor peran, supaya ebih dinamis,” tukas Jaid Saidi saat Audisi hari kedua, di Palembang, Senin (9/5/2011)

Lebih lanjut, jebolan Bengkel Teater WS Rendra ini menambahkan, setelah dilakukan bedah naskah pada audisi pertama, pihaknya akan melakukan diskusi internal kepada penulis. Ini berkaitan dengan beberapa adegan yang menurut Jaid perlu ditambah dan dikurangi. “Saya memang sudah diserahi oleh penulis untuk menggarap naskah ini dalam bentuk pementasan. Tetapi saat saya mengusulkan tambahan adegan dan tambahan dialog, saya harus diskusi dulu dengan penulis, karena ini hak intelektual penulis,” katanya.

Jaid menilai, dalam bedah naskah itu ada beberapa koreksi yang datang dari sejumlah seniman, yang menurut Jaid tidak akan mengurangi esensi naskah, bahkan memperkuat adegan. Jaid mencontohkan perlunya ada adegan antar pengacara dari masing-masing pembela, juragan Tirta dan Sobah sebagai tersangka. “Ini akan kita diskusikan dengan penulis, sehingga tidak akan terjadi saah persepsi ketika pementasan nanti ada tambahan dan pengurangan adegan,” tukasnya.

Terpisah, Yosep Sutrisno, salah satu pelaku teater yang bakal mendukung “Dewi Fortuna” menyarankan agar penulis bisa lebih terbuka menerima saran dan kritik terhadap naskah yang sudah ditulis. “Memang ini hak mutlak penulis. Tapi Bung Jaid sebagai sutradara punya taste sendiri yang sangat mungkin bisa diakomodir oleh penulis,” katanya.

Sementara itu, Imron Supriyadi, penulis naskah ini saat dikonfirmasi via handphone tentang usulan itu, belum bisa menjelaskan secara detil. “Saya bukan tidak setuju dengan usulan tambahan adegan itu, tapi dalam soal ini saya perlu ketemu dulu dengan Bung Jaid. Saya tidak bisa menjelaskan ini lewat telpon. Nanti kalau saya sudah diskusi dengan sutradara akan kita jelaskan lagi,” tukas Imron yan masih berada diluar kota.

Seiring dengan itu, Darwin Syarkowi, mantan praktisi teater Kreta IAIN Raden Fatah Palembang dalam diskusi online menilai, penulis dalam naskah “Dewi Fortuna” tidak secara jelas membahas kasus hukum. Sebab, kalau melihat sinopsisnya, menurut Area Manager Smart FM Palembang ini sejumlah dialog tidak secara detil menyebut sejumlah pasal, seperti mengutip KUHP dan lainnya. “Menurut saya, naskah ini hanya sebuah satire atau sindiran dalam konteks hukum saja, bukan sedang bicara soal hukum secara utuh,” tulisnya, di wall paper FB, Senin (9/5/2011) di Palembang. [*] (rel/dpt)



Read More..

Juni 2011, Festival Lagu dan Tari “Ya Samman” Siap Digelar

Posted: Minggu, 08 Mei 2011 by TEATER HARMONI in Label:
0


Lagu “Ya Samman” sampai hari ini sangat familiar di sejumlah pelaku seni, terutama seni tari dan musik di Palembang dan Sumsel. Tapi sebagian pihak masih ada yang belum mengetahui kalau lagu Ya Samman adalah adalah karya Kamsul A Harla, putra asli Sumsel. Berdasar dengan itu, pada tangal 25 Juni bertempat di Graha Budaya Jaka Baring Palembang festival Lagu dan Tari ‘Ya Samman’ Insya allah akan dilaksanakan, sebagai bentuk sosialisasi.

“Target utama acara ini supaya lagu ini tidak sembarang diklaim orang lain, karena ini memang produk orang kita di Sumsel. Kita agak tidak enak hati saat melihat launching Sea Games ke-16 di Jakarta tempo hari, lagu Ya Samman dibuat oleh panitia dengan inisial no name, (tanpa nama pencipta-red). Ini jelas melukai hak intelektual pencipta lagu,” tegas Muhammad Syahrian, SH, kepada pers di Palembang, Minggu, (8/5/2011).

Lebih lanjut, Direktur PARes Manajemen sebagai pelaksana event, menegaskan kejadian di launching Sea Games beberapa waktu lalu tidak boleh terjadi keduakalinya di saat pembukaan Sea Gems di Palembang. “Pada pembukaan Sea Games di Palembang nanti, tidak boleh lagi ada istilah no name. Waktu di Jakarta memang panitia Sea Games yang tidak koordinasi dengan lembaga seni di Sumsel untuk mencari tahu siapa pencipta lagu Ya Samman. Ironisnya, koreografer juga tidak melakukan verifikasi pencipta lagu ini, jadinya pakai istilah no name. Kedepan ini tidak boleh lagi terjadi,” tegasnya.

Mantan aktifis Universita Muhamamdiyah Palembang (UMP) ini menjelaskan, dalam acara ini akan digelar dua cabang seni yaitu, tari dan lagu, yang melibat sekolah SMP dan SMA se-Sumsel. Masing-masing sekolah akan mengutus peserta dua group dari masing-masing cabang seni. “Karena acara ini melibatkan langsung sekolah, jadi kita harus menunggu selesainya pelaksanaan Ujian Nasional. Kita tidak ingin memecah konsentrasi siswa atau program akademik terganggu oleh event ini. Makanya acara ini sempat megalami pengunduran jadwal, karena harus disesuaikan dengan jadwal ujian nasional,” tegasnya.

Dalam pelaksanannya nanti, menurut Rian pihaknya juga menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak, seperti Taman Wisata Budaya Kerajaan Sriwijaya, (TWBKS), Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur, dan lembaga lain termasuk media. Sebab program ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sejumlah pihak. “Informasi lebih lanjut bisa menghubungi melalui sms nomor 085832482569, 0852 733 97361, atau langsung datang ke kantor panitia, di jalan Swadaya Lorong Sukadarma II no 47.A Palembang,” tambahnya.

Ditanya soal persyaratan, Rian—panggilan akrabnya menjelaskan, jumlah group musik tidak lebih dari 6 Orang, kemudian wajib menyanyikan lagu Ya Saman. “Lagu ini boleh di-aransemen se-bebas-bebasnya. Juga peralatan musik bebas (elektrik, atau perkusi). Dan semua persoalan teksnis peralatan musik ditanggung peserta. Panitia hanya menyiapkan Sound Sistem dan Alat Musik,” tegasnya.
Tentang tari, Rian mengatakan, jumlah group (penari-red) maksimal 6 Orang. Setiap goup wajib menampilkan satu tari dengan iringan lagu Ya Saman. “Soal waktu pementasan, sesuai dengan waktu lagu Ya Saman (1 kali putaran). Dan satu hal yang mesti diingat adalah, tarian ini bukan jenis tarian moderen, seperti Cheer Leader dan sejenisnya. Yang penting, tarian ini bercirikan tari tradisional sesuai dengan tema lagu, yang didasari filosofi dan nilai-nilai syair lagu. (release)


KRITERIA PESERTA
FESTIVAL TARI DAN LAGU ‘YA SAMMAN’

PESERTA
Acara ini akan melibatkan Siswa SMP dan SMA di 15 Kabupaten dan Kota se-Sumsel, dengan estimasi peserta sebanyak 500 orang peserta, dengan rincian : Setiap Kabupaten dan Kota akan mengirim 4 Tim (2 Tim Musik dan 2 Tim Tari) masing-masing tim memiliki pesonil 6 orang. Masing-masing Tim dari 15 Kabupayen dan Kota akan mengirim peserta sebanyak 24 Orang (Tim Tari dan Lagu) plus tim official.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Acara ini direncanakan akan dilaksanakan pada Hari Sabtu Tanggal 25 Juni 2011 di Gedung Graha Budaya Jaka Baring Palembang Pukul 09.00 sampai Selesai

BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan ini, Yakni :
• Kompetisi Tari dan lagu
Adalah Kompetisi Tari dan Lagu Yang diiukuti oleh untusan masing-masing sekolah dari 15 kabupaten/kota di Sumatera selatan yang Mengetengahkan lagu ya Samaan sebagai icon dalam pembukaan Sea Games XXVI di Sumsel.
• Seasion Acara
Dalam kegiatan ini untuk mewarnai jalannya kompetisi Festival tari dan lagu ya samaan dengan menampilkan:
1.Performance dari sosok pencipta lagu ya samaan
2.Peformance deri musisi sumsel dalam hal ini Pilus and Partner
3.Performance dari deklamator Puisi Jaid Saidi
4.Sarana ruang publikasi dari sponsor yang turut menyukseskan kegiatan

DEWAN JURI
Penjurian akan melibatkan sejumlah pelaku seni tari dan lagu berkompeten di bidangnya.
Hal ini dilakukan untuk menciptakan komparasi dan kritik terhadap perkembangan seni tari dan lagu di Sumsel, secara obyektif.

KRIETRIA PESERTA
A. Persyaratan Umum
1. Mengisi formulir pendaftaran
2. Menaati peraturan yang ditentukan panitia
3. Hadir 15 menit sebelum acara dilaksanakan
4. Peserta adalah siswa SMP/MTs/SMA/SMK/MA berdomisli di Sumsel
5. Peserta merupakan utusan sekolah (melampirkan rekomendasi dari sekolah)
6. Transportasi dan penginapan peserta ditanggung peserta sendiri
7. Menampilkan lagu atau tari dengan iringan lagu Ya Saman
8. Membayar biaya pendaftaran Rp. 150.000 rupiah / Group
9. Sekolah boleh mengirim lebih dari 1 tim masing-masing lomba (max.2 tim)
10. Bagi peserta yang belum mendapatkan CD lagu Ya Saman harap menghubungi panitia No.HP. 0852 733 97361 An. Rian 0858 3248 2569
Harga CD Rp. 35. 000 per keping.

B. Persyaratan Khusus (Lagu)

1. Jumlah Group Musik tidak lebih dari 6 Orang
2. Menyanyikan Lagu Ya Saman
3. Lagu boleh di-aransemen se-bebas-bebasnya
4. Peralatan Musik Bebas (elektrik, atau perkusi)
5. Teknis Peralatan Musik (Kabel, Spull) ditanggung Peserta
6. Panitia hanya menyiapkan Sound Sistem dan Alat Musik

C. Persyaratan Khusus (Tari)

1. Jumlah Group (Penari) tidak lebih dari 6 Orang
2. Menampilkan satu Tari dengan iringan lagu Ya Saman
3. Durasi Tari sesuai dengan waktu Lagu Ya Saman (1 kali putaran)
4. Tarian Bukan jenis tarian Moderen (Bukan versi Cheer Leader)
5. Tarian bercirikan Tari Tradisional sesuai dengan Tema Lagu
6. Tari yang ditampilkan didasari Filosofi dan nilai-nilai syair lagu
7. Kostum ditanggung Peserta.

PENUTUP
Demikian, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan semua pihak untuk mendukung program ini.

Palembang, 8 Mei 2011
Panitia Pelaksana

Sumber : http://www.dapunta.com/juni-2011-festival-lagu-dan-tari-%E2%80%9Cya-samman%E2%80%9D-siap-digelar/11442.html

Read More..

Hari ini, Teater Harmoni Palembang Audisi Naskah “Dewi Fortuna”

Posted: Sabtu, 07 Mei 2011 by TEATER HARMONI in Label:
0


Jaid Saidi, salah satu pentolan Teater di Palembang kembali beraksi dalam pergelaran Teater. Setelah sebelumnya ikut membidani Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang dalam lakon “Perempuan Prajurit” yang menyedot 800 penonton belum lama ini, kini jebolan Bengkel Teater WS Rendra ini akan melakukan audisi pemain untuk lakon “Dewi Fortuna” karya Imron Supriyadi, salah satu penulis di Palembang.
Menurut Jaid, audisi ini dilakukan untuk mencari dan melakukan seleksi para pemain yang nantinya akan ikut mendukung naskah ‘Dewi Fortuna’. “Kita harapkan dengan audisi ini akan menemukan para pemain yang memiliki kualifikasi standar dalam pementasan nanti, terutama aktor-aktor panggung, bukan aktor televisi,” katanya, seraya menambahkan audisi akan dilakukan hari ini, Minggu, (8/5/2011) di sekretariat Teater Harmoni, pukul 16.00 WIB.

Mengungkapkan soal muatan naskah, Jadi menyebutkan sarat dengan pesan dan kritik social, terutama yang berhubungan dengan sejumlah kasus hokum di negeri ini. Secara spesifik, penulis memang tidak menyebut satau kasus besar. Malah sebaliknya penulis ingin menyindir penegakan hokum di negeri ini dengan kasus kecil, sebagaimana dalam naskah ini hanya ada seseorang yang mencuri ayam dan beras. “Tetapi pesan yang ingin disampaikan, menurut saya bukan pada bentuk dan jumlah yang dicuri tetapi jual beli pasal dalam penyelesaian kasus. Saya kira naskah ini memiliki sentuhan satir terhadap realitas hokum di negeri ini ang masih carut marut,” tegasnya.
Terpisah, Yussudarson Sonov, salah satu jebolan Teater Leksi Palembang menilai, audisi yang dilakukan Teater Harmoni bukan satu hal berlebihan. Sebab, kalau melihat kenyataannnya, di Palembang memag dbutuhkan actor-aktor panggung yang berkualitas. “Saya tahu persis dengan Bung Jaid. Dia memilih pemain tidak bias asal-asalan. Sehingga dia harus melakukan audisi. Menurut saya positif. Sebab dengan audisi ini akan terjadi persaingan antar pelaku seni dalam merebut peran dalam naskah ini,” katanya, seraya menambahkan kalau dirinya juga siap ikut dalam audisi.
Senada dengan itu, Erwin Janim, mantan praktisi Teater Srijaya Palembang menilai, audisi ini menjadi tantangan sejumlah pelaku seni teater, terutama bagi yang akan ikut audisi. Bahkan pemain senior di Dul Sawan TVRI Sumsel ini menandaskan, penulis sekalipun boleh ikut main dalam naskah ini asal ikut audisi. “Silakan saja kalau penulis ingin ikut main, tapi ya itu tadi harus ikut audisi, supaya kualitas permainan dank e-aktoran penulis juga teruji, bukan hanya menulis saja,” katanya saat dijumpai di Palembang, Rabu (4/5/2011).
Dalam mengusung naskah “Dewi Fortuna” Teater Harmoni menggandeng event organizer Pares Management dan Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur untuk ikut mendesain acara. “Ini kita lakukan supaya para pemain akan lebih focus pada pementasan. Sementara dua lembaga pendukung seperti Pares dan Venesia, bisa konsentrasi pada manajemen acaranya,” tegas Jaid, sembari menambahkan target pementasan akan digelar pada 23-24 Mei di Graha BUdaya Jaka Baring Palembang. (release)

Read More..

Teater Dulmuluk, Antara Realita dan Idealita

Posted: by TEATER HARMONI in Label:
0


Oleh Imron Supriyadi

Sinisme sebagian masyarakat terhadap Kesenian Tradisional Dulmuluk, hingga hari ini masih sangat terasa. Sinisme yang saya maksud, bukan karena masyarakat mencibir dan meludahi pelaku seni Teater Tradisional Dulmuluk, melainkan sinisme kepedulian dari sejumlah warga di Palembang, meski hanya sekadar menonton pun ada keengganan. Ada banyak hal yang kemudian muncul ke permukaan, mengapa Seni Pertunjukan yang mulai dikenal pada awal abad ke-20 ini sangat kurang diminati? Dalam argumentasi umum, sinisme ini didasari kultur Palembang yang memiliki latarbelakang sejarah sebagai kota dagang. Sehingga segala sesuatu yang tidak dapat mendatangnkan uang, termasuk seni pertunjukan apapun, tidak akan mendapat apresiasi serius sebagaimana di Bali, Yogyakarta dan kota besar lainnya, yang iklim seni budayanya lebih maju dari pada Palembang atau Sumsel pada umumnya.

Argumetasi lain terhadap sinisme Seni Tradisi Dulmuluk juga menembak sikap pemerintah di Sumsel pada umumnya yang dianggap oleh sejumlah seniman belum maksimal peduli pada pemelihraan dan pengembangan seni tradisi di Sumsel. Akibatnya, sejumlah kesenian tradisional di Sumsel seperti hidup segan mati tak mau. Kalaupun mendapat kepedulian, hanya sebatas pada acara-acara ceremonial, seperti Festival Sriwijaya, Festival Seni Dulmuluk yang digelar secara periodik, atau di acara-acara tertentu yang bersifat insidental.
Dari argumentasi ini, kemudian muncul pembenaran kalau iklim kesenian di Sumsel, sulit maju karena memang tingkat apresiasi masyarakat Sumsel tidak se-antusias masyarakat di Jawa, Bali, Surabaya, dan Yogyakarta, ketika mereka mengapresiasi sebuah seni pertunjukan, baik moderen atau tradisional. Opini yang timbul bahwa Seni Tradisional Dulmuluk tidak dapat disejajarkan dengan Wayang Kulit, (Jawa Tengah), Wayang Golek (Jawa Barat), Kethoprak (Yogyakarta dan Solo), Ludruk (Jawa Timur) atau seni tradisi lain seperti Drama Gong di Bali.
Dalam realitasnya, Seni Tradisional Dulmuluk, nasibnya tidak jauh berbeda dengan Seni Tradisi Ludruk di Jawa Timur. Sampai hari ini kesenian tradisi asal Jawa Timur itu hanya pentas di ruang publik sekelas parkawinan, khitanan masal, atau sesekali diundang Bupati dan Gubernur. Selebihnya, mengandalkan jualan tiket disaat menggelar pagelaran disebuah gedung pertunjukan. Itupun tidak jarang mereka harus mendaoat honor kecil, karena miskin penonton.
Melihat sinisme masyarakat Sumsel terhadap seni tradisi seperti Dulmuluk, saya cenderung memulai dengan sebuah filosofi, kalau kita sedang menari, lalu kaki kita terkilir (keseleo), tak masti kita menyalahkan lantai. Atau dengan teori asosiasi bisnis; kalau kita menjual pisang goreng, dan konsumen tidak mau membeli dagangan kita, tentu kita tak harus menyalahkan sikap konsumen yang enggan membeli.
Dalam tulisan ini saya ingin mengatakan, ada beberapa persoalan prinsip mengapa seni tradisi dan seni moderen (bukan budaya pop) tidak ’laku jual’ di Sumsel. Pertama; kegagalan membangun trust (kepercayaan). Kita bisa menyaksikan berapa banyak pementasan, event seni yang diselenggarakan seniman di Sumsel, yang dikemas secara apik dan profesional, sehingga dengan pementasan dan garapan event kesenian itu mampu menggerakkan pihak swasta dan pemerintah untuk peduli dan tergerak ’mendanai’ event selanjutnya? Hanya bisa dihitung dengan jari, bahkan nyaris tidak ada. Kenyataan seni pertunjukan yang selama ini kita saksikan, belum sepenuhnya bisa menjadi sesuatu hal yang bernilai jual, sehingga kepercayaan swasta dan pemerintah juga menjadi sangat rendah apresiasinya terhadap sebagian event yang dikelola seniman di Sumsel.
Kedua, ketiadaan lembaga sosio-kultural. Di Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung dan Jakarta, ada sejumlah lembaga sosio kultural (perguruan tinggi seni, lembaga kursus seni, dan dukungan dinamika lembaga kebudayaan), yang ikut mendukung iklim berkesenian, termasuk seni tradisi. Sementara di Sumsel, jangankan perguruan tinggi seni, kita hanya memiliki Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan sekarang muncul jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas IGM Palembang. Kalaupun ada lembaga-lembaga kebudayaan, seberapa kuat mereka mendorong iklim berkesenian di Sumsel, tanpa dukungan lembaga formal?
Ketiga; Kajian Teks atau Naskah. Kalau kita menjual pisang goreng tidak laku, yang kita koreksi bukan pembelinya, tetapi pisang goreng kita kenapa tidak laku di pasaran. Artinya, teks atau naskah sebuah seni pertunjukan juga sangat menentukan bagaimana apresiasi masyarakat terhadap sebuah pagelaran. Jika pementasan seni sudah dimulai dengan teks yang membuat orang bosan, maka dengan sendirinya pementasan selanjutnya tidak lagi mengundang keinginan keduakalinya. Pementasan hanya akan disaksikan oleh seniman itu sendiri, sementara masyarakat lain tidak peduli sama sekali.
Kesenian Tradisi Dulmuluk, jika ingin menjadi ikon Sumsel, sudah seharusnya mengevaluasi dari tiga hal diatas. Kualitas pementasan seni Dulmuluk diharapkan dapat membangun kepercayaan bagi swasta dan pemerintah, sehingga ini akan berimbas pada sikap positif dari swasta dan pemerintah. Selalin itu, dinamika seni tradisi Dulumuluk juga tidak hanya muncul ketika menjelang bokingan event saja, tetapi bisa dilakukan secara rutin dari sekolah ke sekolah. Dan ketiga, tentang teks pementasan.
Selama ini ada sikap kuekeh dari pelaku seni Dulmuluk di Sumsel yang tidak mau keluar dari pakem tradisionalnya, sehingga seolah-olah pakem-pakem Dulmuluk menjadi harga mati. Akibatnya, kemasan dan pementasan Dulmuluk dari tahun ke tahun tidak mengalami perkembangan yang dapat memenuhi selera penonton, apalagi harus memiliki nilai jual di pasaran? Ditambah lagi, ketika tahun 1990-an tontonan di-bombardir dengan sinetron dan film layar lebar, Dulmuluk makin kehilangan energi untuk bertahan di tengah sejumlah alternatif tontonan di layar kaca dan layar lebar.
Dekonstruksi Dulmuluk pernah di dobrak oleh seorang Toton Dai Permana yang mengusung tematik Zahara Siti, menjadi Madona Siti. Selebihnya, upaya mengolah tema Dulmuluk selalu terjebak dalam lingkaran pakem-pakem lama yang menurut sebagian pelaku seni Dulmuluk tidak bisa dirubah.
Menurut saya, dalam konteks kekinian, seni tradisional Dulmuluk tetap saja memiliki peluang untuk menjadi ikon Sumsel yang dapat dinikmati publik. Masalahnya kemudian, tinggal bagaimana sejumlah pelaku seni Dulmuluk berani ’keluar dari kemapanan’ pakem Dulmuluk dan berkompromi dengan pasar. Kompromi yang saya maksud, ada upaya dari sejumlah pelaku seni Dulmuluk untuk memulai hal baru, baik dari sisi garapan panggung, (dengan mengacu pada hukum teater), dan mengusung tematik naskah yang kontekstual. Sebab salah satu kelemahan yang selama ini muncul, guyonan atau kelakar Dulmuluk hanya sebatas kelakar betok, yang tidak sama sekali memiliki pesan moral sosial sebagaimana wayang dan ketoprak. Artinya, pesan filosofis dari celetukan-celetukan kelakar Dulmuluk juga harus lebih cerdas, ketimbang hanya kelakar ”pinggir sungai musi”.
Kualitas seni Dulmuluk hanya akan memiliki kualitas tema, jika penulis naskah juga memiliki pengetahuan luas, bukan hanya dalam lingkaran Sungai Musi, tetapi jauh dari itu mengetahui informasi aktual yang sedang menjadi isu publik di media. Ini yang menurut saya, selama ini kurang diperhatikan sejumlah pelaku seni Dulmuluk, sehingga dari kisah ke kisah hanya berkutat pada Zahara Siti, atau sayembara versus kerajaan yang berujung dengan hadiah pernikahan dengan putri. Saya pikir, isu-siu seperti ini sudah mulai dikikis sehingga tema cerita Dulmuluk akan lebih membaru dan layak jual di kalangan eksekutif, sebagaimana wayang dan ketoprak.
Dalam upaya ini, kelompok seni dulmuluk memang harus kembali melakukan seleksi pemain muda yang siap membuka diri menjadi pemain dulmuluk, sekaligus mencari konseptor (penulis) naskah Dulmuluk yang memiliki wawasan global. Jika ini dilakukan, dalam hitungan bulan, seni tradisional Dulmuluk akan menjadi teater tradisional yang bukan hanya dipentaskan di pesta perkawinan saja, tetapi akan muncul di panggung yang lebih bergengsi. Masalahnya kemudian tinggal mau atau tidak?

Palembang, 28 Desember 2010
Penulis adalah Pelaku Seni Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang

Read More..

Teater di Palembang Antara Kualitas dan Kuantitas

Posted: by TEATER HARMONI in Label:
0


(Catatan kecil dari Sejumlah Pementasan Teater di Palembang 2010)

Mencatat perjalanan dinamika teater di Palembang, menurut saya di tahun 2010 ada ghirah (semangat) yang menurut saya bukan hal baru, tetapi melihat sejumlah pementasan teater yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga, enam bulan terakhir perjalanan teater di Palembang sangat dinamis. Dalam konteks ini saya melihat ada peningkatan kuantitas pementasan teater yang cukup siginifikan dibanding tahun sebelumnya. Paling tidak, saya mencatat ada 15 event pementasan teater di Palembang, yang menurut saya menjadi satu fenomena menarik untuk membangun trust (kepercayaan) kepada pemerintah dan pihak swasta untuk kemudian mereka berkewajiban merespon secara positif terhadap perjalanan teater di Palembang. Ini sebagai jawaban; teater di Palembang tidak mati!


Kenapa saya katakan demikian? Pertama, karena jumlah event pementasan mengalami peningkatan drastis dibanding tahun sebelumnya. Ini sebuah kemajuan. Kedua, dari sejumlah pementasan yang saya lihat, banyak potensi kreasi seni, bukan saja teater tetapi juga cabang lain dari sejumlah sekolah dan kampus, yang notabene menjadi embrio (kader-kader) pelaku seni (dan teater) di Palembang yang sudah seharusnya diakomodir oleh lembaga-lembaga seni yang ada. Bukan hanya Dewan Kesenian Palembang (DKP) dan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS), tetapi semua baik secara kelembagaan atau individu memiliki tangungjawab sama dalam mengupayakan kader-keder pelaku teater ini tetap konsisten menjaga kreatifitasnya sampai kemudian menelurkan generasi berikutnya.

Tetapi, satu hal yang harus diakui juga tentang kualitas kemasan, naskah dan elemen lain yang menjadi bagian penting dalam sebuah pementasan teater. Dari sejumlah pementasan, (terutama teater yang lahir dari sekolah dan kampus) belum bisa dijadikan acuan kualitas kelayakan untuk sebuah pertunjukan teater yang layak jual, apalagi ditawarkan kepada pihak swasta. Meskipun, ada satu atau dua kelompok teater dari kalangan mahasiswa yang memberanikan diri menjual tiket sebagaimana pementasan di berbagai kota di luar Sumatera Selatan. Ini sudah keberanian yang cukup luar biasa. Dan faktanya juga banyak yang menonton.

Namun dari catatan saya, kalau berbincang kualitas pementasan teater memang tidak bisa diukur secara matematis. Penilaian ini sifatnya sangat relative, yang sudah pasti akan disesuaikan dari mana kita menilai sebuah pementasan dan masing-masing orang akan berbeda. Maksud saya, kualitas dan tidaknya pementasan teater masing-masing orang memiliki ukuran yang variatif.

Bagi orang yang sudah biasa menonton pementasan Teater di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, sangat mungkin melihat kualitas pementasan teater di Palembang masih jauh panggang dari api. Tetapi bagi kalangan siswa dan mahasiswa yang baru kenal teater, apapun bentuk pementasannya akan menilai ‘baik’ selama tema ceritanya bisa diikuti sejak awal hingga akhir. Kelompok ini hanya akan mengukur baik buruknya pementasan dalam konteks kedekatan psikologi, apakah karena kelompoknya yang pentas atau memang karena alur ceritanya yang masuk dalam ruang batin dan logikanya, sehingga pementasan itu dinilai baik dan layak tonton.

Dengan kata lain, kelompok kedua ini kualitas pementasan tidak akan menyentuh hukum panggung seperti bloking, moving, tata artistic, penyutradaraan, music. lighting dan lainnya. Sebab, memang kelompok ini masih awam terhadap seni teater (baru belajar menjadi penonton teater yang baik).

Tetapi bagi kelompok yang memilki standar tinggi, apalagi sudah berpengalaman menonton pementasan teater yang layak jual, akan bisa membedakan dan menilai baik buruknya pementasan teater dari sisi penggarapan, tema cerita dan pesan moral dari sebuah pementasan.

Pesan Sponsor
Lepas dari semua itu, catatan saya kalau melihat sejumlah kelemahan pementasan teater di Palembang, (terutama teater dari sekolah dan kampus) masih sangat diwarnai oleh “racun” sinetron, sehingga panggung teater tak lebih memindahkan adegan sinetron keatas panggung, baik tema cerita, penggarapan dan lainnya. Selain itu, konten (naskah) yang menjadi bagian penting dari pementasan itu sendiri. Sampai hari ini, secara umum teks-teks teater (naskah) yang meuncul ke permukaan belum bisa dijadikan sebuah alat kritik terhadap realitas sosial, yang notabene sangat penting dimunculkan. Yang lebih parah lagi, ada penulis naskah teater yang ‘memaksakan’ pesan sponsor, sehingga tema cerita yang seharusnya bisa diolah lebih dalam, justeru bias oleh pesanan. Meskipun ini bukan menggadaikan ideologi teater, tetapi karena penulis naskah sudah dihinggapi gambaran rupiah sponsor, sehingga mau tidak mau harus menyelipkan pesan sponsor. Masalahnya bukan tidak boleh mengusng pesan sposor, tetapi hanya bagaimana mengemas, sehingga pesan sponsor tetap sampai, tetapi penoton tidak terasa kalau sedang dibawa kepada sebuah sponsor tertentu.
Dalam konteks ini perlunya sebuah kreatifitas maksimal bagi penulis naskah, sehingga naskah akan lebih hidup ketika dipentaskan.

Sejumlah kelemahan, baik naskah atau kemasan pementasan teater versus sinetron, (bagi teater dari sekolah dan mahasiswa) tidak bisa kita menyalahkan lantai saat kaki kita terikilir saat menari. Demikian juga sejumlah kekurangan dan kelemahan pementasan teater yang lahir dari sekolah dan kampus. Kenapa? Ya karena mereka lahir juga dari pelaku seni teater yang ada di Palembang! Jadi mengapa harus menyalahkan mereka? Mestinya para pelaku teater yang ‘mengaku berpengalaman’ tunjukkan kreatifitasnya dalam sebuah garapan pentas teater yang memiliki nilai jual, manggandeng sponsorship atau lembaga lain,sehingga pementasan itu akan “menjadi guru” bagi pelaku teater yang baru kenal dengan dunia teater. Kalau sejumlah kelemahan dan kekurangan ini terbiar begitu saja, dengan sendirinya teater yang lahir dari sekolah dan kampus tidak aka nada peningkatan kualitas termasuk teater-teater di kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

Masalahnya kemudian, kadang sebagian kita mengaku banyak tahu tentang teater, padahal sebenarnya kita baru tahu kulitnya saja, sehingga teater hanya dijadikan sebagai pentas tekstual diatas panggung tanpa membawa pesan moral bagi pelakunya atau bagi masyarakat. Apalagi pola garapan dan kemasan pentas, naskah dan lainnya. Selain itu, ada kecenderungan kita merasa besar, merasa aktor hebat, sutrdara senior, penulis hebat, pelaku teater yang militan, sehingga menilai remeh orang lain. Pola pikir seperti ini, bila masih menggurita di sejumlah pelaku teater di Palembang, sebaiknya mulai dikikis habis, supaya tidak ada perasaan merasa “paling, ter dan hebat” diantara pelaku teater lainnya. Kenapa ini penting? Karena selama perasaan merasa hebat, merasa aktor senior itu masih menyusup dalam logika dan batinnya, sudah pasti tidak akan mau lagi menerima kritik, masukan dari orang lain, apalagi menonton karya orang lain, termasuk karya anak-anak sekolah dan kampus. “Sudahlah, anak-anak sekolah, kampus paling-paling mak itulah!” kaliamt pesimistis yang sama sekali tidak member motivasi bagi generasi baru bagi dunia teater!

Catatan ini, terlihat dari sejumlah pementasan teater yang muncul belakangan ini. Mungkin juga disebabkan keterbatasan panitia dalam melakukan sosialisasi undangan, sehingga sejumlah pelaku teater di Palembang yang “lebih senior” tak sempat hadir. Sebab, tidak sampainya undangan atau pemberitahuan juga sering menjadi kendala atau alasan ketidakhadiran. Padahal hanya datang sekadar duduk dan menonton sebentar, lalu berbicang seadanya, menurut saya bisa menjadi bagian penting dalam mengawal proses dinamika seni teater di Palembang. Kedatangan para pelaku teater ‘senior’ menjadi penting artinya bagi motivasi adik-adik siswa dan mahasiswa. Tetapi saya tidak tahu, dari sejumlah pementasan teater di Palembang (terutama yang diselenggarakan bagi siswa dan mahasiswa), hanya antar pelajar dan mahasiswa saja yang datang, sementara para pelaku teater di Palembang yang lebih ‘senior’ hanya satu dua orang saja. Semoga kesibukan mereka sedang mempersiapkan naskah pementasan teater yang berkulitas, untuk tahun 2011, yang kita harapkan dapat menjadi ‘guru’ bagi kita semua. Baik buruk pementasan bukan masalah, itu sebuah realtifitas. Tetapi menurut saya, kehadiran pelaku teater senior di tengah dinamika teater siswa dan mahasiswa menjadi pendorng semangat bagi mereka agar tetao konsisten melestarikan seni teater di Palembang. Semoga!

Palembang, 14 Novemver 2010

Read More..

"Meramal" Teater Indonesia

Posted: by TEATER HARMONI in Label:
0

By teaterindonesia
Jangan tertipu! Saya bukanlah peramal jitu. Tidak juga berniat menambah iklan peramal di televisi. Saya hanya mengajak Anda berandai-andai menjadi peramal. Kita meramal arah teater Indonesia.
Sebelum melihat masa depan, kita terawang dulu masa lalu. Membuka, membaca, atau sambil mengenang masa pertumbuhan awal teater Indonesia. Siapa tahu ketemu tanda-tanda masa depan teater Indonesia.
Empu teater ada enam orang. Teguh Karya, WS. Rendra, N. Riantiarno, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, dan Suyatna Anirun. Dari kelompok yang mereka dirikan, kelak lahir tokoh teater penerus . Siapa saja mereka? Itu juga akan kita ramal.
Tiga dari empu itu punya pendidikan formal teater.Teguh Karya dan N. Riantiarno alumni ATNI, Akademi Teater Nasional Indonesia. Yang pertama dosen dan yang kedua mahasiswa. Saat itu, ATNI mempengaruhi seniman-seniman daerah hijrah ke Jakarta. N. Riantiarno salah satunya. Beliau nekat ke Ibukota demi kuliah di ATNI. Teguh Karya kelak mendirikan teater Populer, N. Riantiarno mendirikan teater Koma.

Putu Wijaya yang kelak mendirikan teater Mandiri, juga mengecap pendidikan formal teater. Selain kuliah hukum di UGM, ia menempuh pendidikan di ASDRAFI, Akademi Seni Drama dan Film Yogyakarta.
Tiga empu lain, WS. Rendra, Arifin C. Noer, dan Suyatna Anirun, pendidikannya bukanlah teater. Mereka teaterawan otodidak. Ilmu didapatkan dari kelompok teater yang mereka dirikan. WS. Rendra mendirikan Bengkel, Arifin C. Noer membesarkan teater Kecil, dan Suyatna Anirun memekarkan Studiklub Teater Bandung (STB). Perlu dicatat bahwa Putu dan Arifin pernah berguru pada Rendra.
Separuh dari enam teaterawan ini otodidak.
Melihat persentase ini, apakah sampai sekarang para teaterawan otodidak dan formal punya ‘bunyi’ yang seimbang?
Belakangan ini, kalau boleh mengambil contoh, calon potensial justru tidak berpendidikan formal teater. Gaung teater Garasi sudah terdengar di Amerika dan Eropa. Mayoritas anggotanya bukanlah alumnus jurusan Teater. Teater Satu Lampung dan kelompok teater di daerah pun demikian.
Melihat umur dan jumlah kampus kesenian, terutama yang membuka jurusan teater, mestinya sudah lahir tokoh jagad teater Indonesia. Berapakah tokoh dari STSI Bandung, STSI Solo, STSI Padang, dan di Jakarta ada IKJ? Bukankah teori dan bentuk teater Indonesia mestinya lahir dari rahim ini? Di kampus inilah ‘kitab suci’ teater Indonesia berada? Dalam terawangan saya bolak-balik yang muncul aktor Iman Soleh.
Maraknya kelompok teater di kampus non kesenian, teater lingkungan, pengajarnya didominasi trah otodidak. Sudah waktunya kaum bergelar turun gunung ke masyarakat. Mau tidak mau, teaterawan otodidak butuh akademisi yang betul-betul mengerti dunia teater. Sebagai cerdik pandai berdiri menjadi proklamator teater Indonesia ke luar negeri lewat buku-buku, kajian ilmiah, dan pagelaran tentu saja.
Mencermati belum ‘bergizi’ dan bersinerginya kaum akademisi dan otodidak, saya sudah meramal arah perkembangan teater di Indonesia. Mudah-mudahan terawangan kita tidak sama. Amin!


Sumber : http://teaterindonesia.wordpress.com/2009/11/25/meramal-teater-indonesia

Read More..

Teater Musiman

Posted: by TEATER HARMONI in Label:
0


By teaterindonesia
Kelompok teater di Indonesia seolah hidup di siklus musim. Pementasan pada umumnya dilakukan ketika festival teater saja. Itu seolah menjadi takdir yang sulit dirubah. Bila festival sedang berjalan, maka banyak kelompok teater mendapatkan tenaga tambahan tiba-tiba. Latihan pun digeber sampai pagi. Sudah tentu besoknya akan bangun siang. Maklum tak lagi kuliah atau sedang cuti kerja.
Bagi kelompok teater yang sudah agak dikenal, beda lagi caranya mengikrarkan keberadaan kelompoknya. Pementasan digelar sambil berharap berkah suntikan dana dari kedutaan negara-negara sahabat. Tanpa sadar kelompok seperti ini mengikrarkan diri sebagai kelompok yang hidup di negara miskin. Miris.

Sungguh diuntung memang. Kedutaan-kedutaan, terutama di Jakarta, memiliki agenda untuk memperkenalkan seniman negerinya. Mereka kadang-kadang mendanai grup teater atau pribadi untuk mementaskan naskah dari negara bersangkutan. Atau menggelar festival naskah teater seniman A, misalnya. Sudah tentu dengan bantuan pendanaan.
Entah karena alasan ini, pemerintah menjadi punya argumen menghindar dari usaha pengembangan teater di republik ini. “Kalau kedutaan alias negara lain mendanai pementasan teater di Indonesia, lalu untuk apa lagi dibantu? Mending dana dipakai untuk mengatasi bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo.” Kira- kira begitu mungkin kesimpulannya. Jadi protes para seniman yang merasa dianaktirikan menjadi omong kosong. Sudah dibantu negara lain kok?
Kondisi ini menciptakan ritme kerja teater yang mutakhir. Inilah teater musiman, teater yang ‘hidup’ di festival dan sokongan kedutaan. Beberapa grup teater terjebak dalam pola ini. Berpentas ketika festival atau atas undangan kedutaan. Jika dua peristiwa itu tidak ada, maka saatnya masuk proses hibernasi. Ironis.
Meski hanya beberapa grup yang melakukan proses kreatif musiman, terasa menjadi signifikan bila dibandingkan dengan grup teater yang masih aktif berpentas hingga sekarang. Nah, kalau kelompok yang sudah berumur saja melakukan pola itu, bagaimana dengan teater sekolah dan kampus? Ya, mampus.
Teater yang bernaung dalam institusi pendidikan juga setali tiga uang. Kelompok-kelompok teater marak ketika berlangsung hajatan festival teater sekolah dan kampus. Kalau pesta usai, ya hibernasi juga.
Mungkin perlu sejenak melihat ke belakang, supaya berani bertindak lain. Mengambil pelajaran ketika ritual agama atau adat, yang menjadi cikal bakal teater modern, masih berlangsung.
Berbicara tentang ritual, berarti tersirat kebutuhan pribadi di sana ketika melakukannya. Upacara tidak semata-mata demi kepentingan pemimpin agama dan kepala suku. Umat atau insan masyarakat sendiri membutuhkan upacara tersebut. Keterlibatan dalam upacara didorong oleh kebutuhan personal, bukan situasional.
Bila memang tidak ada sokongan perhatian dari pemerintah, teater itu bisa berkembang sendiri. Dengan catatan, pementasan dilakukan karena kebutuhan berbuat dan berucap, mewujudkan perasaan terima kasih kepada alam.
Perasaan saya, permintaan sokongan dari kedutaan negara sahabat ini akan sementara saja. Yah, sekedar intermezzo. Toh ke depan akan berjalan sendiri. Pada akhirnya setiap pekan akan ada pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, Graha Bhakti Budaya dan Teater Kecil-nya. Gedung Kesenian Jakarta tidak perlu lagi diplesetkan menjadi Gedung Konser Jakarta karena lebih sering dimanfaatkan grup musik, dimana direkturnya yang mahir piano sering ikut mengiringi pengisi acara.
Mari menjadi teater yang bisa hidup di segala musim, tidak lagi hanya musim-musim tertentu! Mari berbuat demi rasa terima kasih terhadap alam. Salam.

Sumber : http://teaterindonesia.wordpress.com/2009/11/26/teater-musiman

Read More..

Lorem Ipsum

Selamat Datang di Blog Kami

Followers

ChatBox