Teater Dulmuluk, Antara Realita dan Idealita

Posted: Sabtu, 07 Mei 2011 by TEATER HARMONI in Label:
0


Oleh Imron Supriyadi

Sinisme sebagian masyarakat terhadap Kesenian Tradisional Dulmuluk, hingga hari ini masih sangat terasa. Sinisme yang saya maksud, bukan karena masyarakat mencibir dan meludahi pelaku seni Teater Tradisional Dulmuluk, melainkan sinisme kepedulian dari sejumlah warga di Palembang, meski hanya sekadar menonton pun ada keengganan. Ada banyak hal yang kemudian muncul ke permukaan, mengapa Seni Pertunjukan yang mulai dikenal pada awal abad ke-20 ini sangat kurang diminati? Dalam argumentasi umum, sinisme ini didasari kultur Palembang yang memiliki latarbelakang sejarah sebagai kota dagang. Sehingga segala sesuatu yang tidak dapat mendatangnkan uang, termasuk seni pertunjukan apapun, tidak akan mendapat apresiasi serius sebagaimana di Bali, Yogyakarta dan kota besar lainnya, yang iklim seni budayanya lebih maju dari pada Palembang atau Sumsel pada umumnya.

Argumetasi lain terhadap sinisme Seni Tradisi Dulmuluk juga menembak sikap pemerintah di Sumsel pada umumnya yang dianggap oleh sejumlah seniman belum maksimal peduli pada pemelihraan dan pengembangan seni tradisi di Sumsel. Akibatnya, sejumlah kesenian tradisional di Sumsel seperti hidup segan mati tak mau. Kalaupun mendapat kepedulian, hanya sebatas pada acara-acara ceremonial, seperti Festival Sriwijaya, Festival Seni Dulmuluk yang digelar secara periodik, atau di acara-acara tertentu yang bersifat insidental.
Dari argumentasi ini, kemudian muncul pembenaran kalau iklim kesenian di Sumsel, sulit maju karena memang tingkat apresiasi masyarakat Sumsel tidak se-antusias masyarakat di Jawa, Bali, Surabaya, dan Yogyakarta, ketika mereka mengapresiasi sebuah seni pertunjukan, baik moderen atau tradisional. Opini yang timbul bahwa Seni Tradisional Dulmuluk tidak dapat disejajarkan dengan Wayang Kulit, (Jawa Tengah), Wayang Golek (Jawa Barat), Kethoprak (Yogyakarta dan Solo), Ludruk (Jawa Timur) atau seni tradisi lain seperti Drama Gong di Bali.
Dalam realitasnya, Seni Tradisional Dulmuluk, nasibnya tidak jauh berbeda dengan Seni Tradisi Ludruk di Jawa Timur. Sampai hari ini kesenian tradisi asal Jawa Timur itu hanya pentas di ruang publik sekelas parkawinan, khitanan masal, atau sesekali diundang Bupati dan Gubernur. Selebihnya, mengandalkan jualan tiket disaat menggelar pagelaran disebuah gedung pertunjukan. Itupun tidak jarang mereka harus mendaoat honor kecil, karena miskin penonton.
Melihat sinisme masyarakat Sumsel terhadap seni tradisi seperti Dulmuluk, saya cenderung memulai dengan sebuah filosofi, kalau kita sedang menari, lalu kaki kita terkilir (keseleo), tak masti kita menyalahkan lantai. Atau dengan teori asosiasi bisnis; kalau kita menjual pisang goreng, dan konsumen tidak mau membeli dagangan kita, tentu kita tak harus menyalahkan sikap konsumen yang enggan membeli.
Dalam tulisan ini saya ingin mengatakan, ada beberapa persoalan prinsip mengapa seni tradisi dan seni moderen (bukan budaya pop) tidak ’laku jual’ di Sumsel. Pertama; kegagalan membangun trust (kepercayaan). Kita bisa menyaksikan berapa banyak pementasan, event seni yang diselenggarakan seniman di Sumsel, yang dikemas secara apik dan profesional, sehingga dengan pementasan dan garapan event kesenian itu mampu menggerakkan pihak swasta dan pemerintah untuk peduli dan tergerak ’mendanai’ event selanjutnya? Hanya bisa dihitung dengan jari, bahkan nyaris tidak ada. Kenyataan seni pertunjukan yang selama ini kita saksikan, belum sepenuhnya bisa menjadi sesuatu hal yang bernilai jual, sehingga kepercayaan swasta dan pemerintah juga menjadi sangat rendah apresiasinya terhadap sebagian event yang dikelola seniman di Sumsel.
Kedua, ketiadaan lembaga sosio-kultural. Di Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung dan Jakarta, ada sejumlah lembaga sosio kultural (perguruan tinggi seni, lembaga kursus seni, dan dukungan dinamika lembaga kebudayaan), yang ikut mendukung iklim berkesenian, termasuk seni tradisi. Sementara di Sumsel, jangankan perguruan tinggi seni, kita hanya memiliki Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dan sekarang muncul jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas IGM Palembang. Kalaupun ada lembaga-lembaga kebudayaan, seberapa kuat mereka mendorong iklim berkesenian di Sumsel, tanpa dukungan lembaga formal?
Ketiga; Kajian Teks atau Naskah. Kalau kita menjual pisang goreng tidak laku, yang kita koreksi bukan pembelinya, tetapi pisang goreng kita kenapa tidak laku di pasaran. Artinya, teks atau naskah sebuah seni pertunjukan juga sangat menentukan bagaimana apresiasi masyarakat terhadap sebuah pagelaran. Jika pementasan seni sudah dimulai dengan teks yang membuat orang bosan, maka dengan sendirinya pementasan selanjutnya tidak lagi mengundang keinginan keduakalinya. Pementasan hanya akan disaksikan oleh seniman itu sendiri, sementara masyarakat lain tidak peduli sama sekali.
Kesenian Tradisi Dulmuluk, jika ingin menjadi ikon Sumsel, sudah seharusnya mengevaluasi dari tiga hal diatas. Kualitas pementasan seni Dulmuluk diharapkan dapat membangun kepercayaan bagi swasta dan pemerintah, sehingga ini akan berimbas pada sikap positif dari swasta dan pemerintah. Selalin itu, dinamika seni tradisi Dulumuluk juga tidak hanya muncul ketika menjelang bokingan event saja, tetapi bisa dilakukan secara rutin dari sekolah ke sekolah. Dan ketiga, tentang teks pementasan.
Selama ini ada sikap kuekeh dari pelaku seni Dulmuluk di Sumsel yang tidak mau keluar dari pakem tradisionalnya, sehingga seolah-olah pakem-pakem Dulmuluk menjadi harga mati. Akibatnya, kemasan dan pementasan Dulmuluk dari tahun ke tahun tidak mengalami perkembangan yang dapat memenuhi selera penonton, apalagi harus memiliki nilai jual di pasaran? Ditambah lagi, ketika tahun 1990-an tontonan di-bombardir dengan sinetron dan film layar lebar, Dulmuluk makin kehilangan energi untuk bertahan di tengah sejumlah alternatif tontonan di layar kaca dan layar lebar.
Dekonstruksi Dulmuluk pernah di dobrak oleh seorang Toton Dai Permana yang mengusung tematik Zahara Siti, menjadi Madona Siti. Selebihnya, upaya mengolah tema Dulmuluk selalu terjebak dalam lingkaran pakem-pakem lama yang menurut sebagian pelaku seni Dulmuluk tidak bisa dirubah.
Menurut saya, dalam konteks kekinian, seni tradisional Dulmuluk tetap saja memiliki peluang untuk menjadi ikon Sumsel yang dapat dinikmati publik. Masalahnya kemudian, tinggal bagaimana sejumlah pelaku seni Dulmuluk berani ’keluar dari kemapanan’ pakem Dulmuluk dan berkompromi dengan pasar. Kompromi yang saya maksud, ada upaya dari sejumlah pelaku seni Dulmuluk untuk memulai hal baru, baik dari sisi garapan panggung, (dengan mengacu pada hukum teater), dan mengusung tematik naskah yang kontekstual. Sebab salah satu kelemahan yang selama ini muncul, guyonan atau kelakar Dulmuluk hanya sebatas kelakar betok, yang tidak sama sekali memiliki pesan moral sosial sebagaimana wayang dan ketoprak. Artinya, pesan filosofis dari celetukan-celetukan kelakar Dulmuluk juga harus lebih cerdas, ketimbang hanya kelakar ”pinggir sungai musi”.
Kualitas seni Dulmuluk hanya akan memiliki kualitas tema, jika penulis naskah juga memiliki pengetahuan luas, bukan hanya dalam lingkaran Sungai Musi, tetapi jauh dari itu mengetahui informasi aktual yang sedang menjadi isu publik di media. Ini yang menurut saya, selama ini kurang diperhatikan sejumlah pelaku seni Dulmuluk, sehingga dari kisah ke kisah hanya berkutat pada Zahara Siti, atau sayembara versus kerajaan yang berujung dengan hadiah pernikahan dengan putri. Saya pikir, isu-siu seperti ini sudah mulai dikikis sehingga tema cerita Dulmuluk akan lebih membaru dan layak jual di kalangan eksekutif, sebagaimana wayang dan ketoprak.
Dalam upaya ini, kelompok seni dulmuluk memang harus kembali melakukan seleksi pemain muda yang siap membuka diri menjadi pemain dulmuluk, sekaligus mencari konseptor (penulis) naskah Dulmuluk yang memiliki wawasan global. Jika ini dilakukan, dalam hitungan bulan, seni tradisional Dulmuluk akan menjadi teater tradisional yang bukan hanya dipentaskan di pesta perkawinan saja, tetapi akan muncul di panggung yang lebih bergengsi. Masalahnya kemudian tinggal mau atau tidak?

Palembang, 28 Desember 2010
Penulis adalah Pelaku Seni Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang

0 komentar:

Lorem Ipsum

Selamat Datang di Blog Kami

Followers

ChatBox